Assessment dalam Psikologi Forensik - MasterJurnal
Cari Jurnal Ilmiah? Tinggal Klik-Klik, Beres!

Assessment dalam Psikologi Forensik

Oleh Staf • 24 October 2014 • Kategori: Blog

about

Identifikasi kejahatan dimaksudkan untuk menggali lebih jauh bagaimana suatu kejahatan terjadi, profil pelaku kejahatan, waktu, dan tempat tindak kejahatan, dan informasi lain yang relevan.

Menurut Holmes dan Holmes (1996), pola psikologis dibuat dengan tiga tujuan utama untuk memenuhi sistem peradilan. Pertama, tanggapan sosial dan psikologis dari pelaku kejahatan, evaluasi psikologis dari terduga sebagai pelaku tindak kejahatan, dan konsultasi dengan lembaga penegak hukum terkait bagaimana strategi wawancara yang digunakan.

Dalam proses identifikasi kejahatan, diperlukan bukti dan saksi yang saling menguatkan. Beberapa jalan yang ditempuh antara lain identifikasi Deoxyribonucleic Acid (DNA), sidik jadi, dan kesaksian saksi mata dan atau korban kejahatan. Identifikasi ini acapkali menjadi perdebatan, karena ketika tidak ada bukti forensik, maka hanya dapat mengandalkan saksi mata. Informasi dari saksi mata perlu dipastikan agar interpretasinya dapat sesuai kenyataan serta mempertimbangkan keterbatasan saksi mata dalam persidangan (Davies dkk., 2008). Selain itu, identifikasi kejahatan dapat pula menggunakan bantuan foto dan Closed-Circuit Television atau yang lebih dikenal dengan CCTV untuk mengidentifikasi wajah pelaku.

Salah satu aspek psikologis yang mempengaruhi kesaksian atas suatu kejahatan ialah memori. Dalam perspektif psikologi kognitif, memori ialah proses pengolahan informasi yang meliputi encoding, stored, dan retrieval. Encoding ialah penerimaan, pemrosesan, dan pengorganisasian informasi yang diterima. Storage ialah pembuatan “catatan” permanen di dalam otak. Retrieval diartikan sebagai proses recall data dan informasi sebagai respon atas stimulus tertentu.

Sementara itu, ingatan manusia secara aktif merekonstruksi penjelasan suatu peristiwa atau objek dari informasi-informasi tidak lengkap yang tersimpan dalam ingatan (Davies et.al, 2008). Artinya, dalam memberi kesaksian misalnya, dimungkinkan terjadi distorsi informasi oleh asumsi pribadi, belief, dan pengalaman yang dialami saksi mata sebelumnya. Secata teoritis, source of attribution error dapat dialami oleh saksi mata.

Contoh konkrit terjadinya distorsi memori ialah studi Bartlett pada 1930-an. Dalam studi tersebut, ia mengatakan kepada subjek ihwal cerita rakyat dari budaya asing dan meminta mereka untuk mengingat kembali serta menceritakannya. Hasilnya, subjek membuat kesalahan dengan membawa cerita menjadi cenderung lebih sesuai dengan kultur mereka sendiri.

Kepustakaan:

  • Bartlett, F. C. (1995). Remembering: A Study in Experimental and Social Psychology. New York: Cambridge University Press.
  • Davies, G. (2008). Forensic Psychology. West Sussex: John Wiley & Sons.

 
Total 5483 mahasiswa telah terdaftar. Buruan Gabung!
"Cari Jurnal lebih mudah dan cepat berkat MasterJurnal.com", Simak Apa kata mereka >> Disini <<
Promo Diskon 50% sebelum 1 Januari 2015, info lengkap: Klik Disini >>>

    Customer Support

    Download Jurnal Ilmiah Lokal & Internasional - MasterJurnalHalo! Adakah yang bisa kami bantu? :) .
    Cek dahulu halaman FAQs kami.

     
    Download Jurnal Ilmiah Lokal & Internasional - MasterJurnal