Menggagas Prinsip Primordial Religion dalam Memanifestasikan Perenialisme Ajaran Islam

Abstract:

Inti dari pandangan perenialisme adalah bahwa pada hakekatnya terdapat kebenaran dalam seluruh agama. Hakekat inilah yang disebut dengan “inner metaphysical truth of religion” (kebenaran metafisis batiniah agama) di dalam kamus peristilahan Islam disebut al-Din al-hanif —primordial religion—. Kebenaran primordial ini selalu hadir sepanjang sejarah, berlaku abadi. Dengan kata lain, terdapat persatuan prinsip hakikat keilahian sebelum terjadinya keragaman. Doktrin al-Tauhid dalam Islam memberikan sumbangan besar kepada pemersatuan umat karena wahyu sendiri mengutamakan integrasi atau keterpaduan. Tuhan adalah Satu dan begitulah manusia, yang dicipta menurut ‘GambaranNya’, harus berpadu dan menyatu.

Tujuan kehidupan beragama dan kerohanian, haruslah membangun visi keterpaduan yang sempurna dan menyeluruh dalam diri manusia dengan segala kedalaman dan keluasannya.

Berkaitan dengan dimensi perenial, dapat dicermati bahwa cita-cita Islam dengan konsep al-Tauhid membawa manusia, dalam pluralitasnya yang telah jauh dari dimensi ruhaniah Tuhan, untuk kembali mengajak mereka kembali kepada pusat hidupnya yaitu Tuhan. Kedamaian adalah buah dari keseimbangan dan keselarasan yang hanya mungkin dicapai melalui keterpaduan dengan mengamalkan al-Tauhid.

Bertoleransi dalam segala perbedaan sebagai hukum Tuhan (sunnatullah) adalah ajakan yang senantiasa disuarakan oleh semua agama. Implikasi sosial dimensi perenial dalam Islam mengajak segenap kaum Muslim untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits sebagai akar pokok berdirinya suatu tradisi.


Keywords: perenial, perenialisme, primordial religion, sufisme, tauhid
Categories: Keislaman